In truth all of us are sinners, and it is only from Allah’s mercy upon us that He is "As-Sitteer" - the One who veils our faults and our flaws, and makes us seem better than we really are in others’ eyes...
Sunday, October 17, 2010
A candle in the dark.
Friday, October 15, 2010
Redha = Contentment
Say: "Nothing shall ever happen to us except what Allah has ordained for us. He is our Maula (Lord, Helper and Protector). And in Allah let the believers put their trust." [At-taubah - 9:51]
This recognition of divine intervention always, more often than not occurs in retrospect. When everything has settled down. When you have moved on with life after calamity strikes. When your worries are gone with the wind of time. When you have accepted what has been given to you. And then you look back at your life. In retrospect.
It is always in our reflection of ourselves (our muhasabah) that we will see how benevolent and bountiful Allah's Love and Mercy really is. The times we take to retract ourselves from the world of chaos and materialism outside and look inside carefully, these are those times that awareness and acceptance will come to us. And peace will befall us, a peace that can make even the most weary and discontented, serene and calm.
That is what we call Redha.
"As for him who gives (in charity) and keeps his duty to Allah, and believes in the Best reward from Allah (i.e. Allah will compensate him for what he will spend in Allah's way). So, We will make smooth for him the path of Bliss.." [Al-layl - 92:5-7]
"And have in their minds no favour from anyone for which a reward is expected in return, But only the desire to seek for the Countenance of their Lord Most High. And soon will they attain (complete) satisfaction." [Al-layl - 92:17-19]
Monday, October 11, 2010
A reminder to myself.
The religion itself becomes a mean by which you promote your own ego. It's ironic because the religion was revealed for us to be humble ourselves. But now we are using that very Deen to express our arrogance.
Is the religion here to serve our needs, or are we here to serve Allah's Deen?
Please help me correct myself O Allah.
-_-
Muhasabah Diri: Usaha yang belum cukup
Graf "Bagaimana boleh bertahan?". Bagaimana memahaminya?
Ianya boleh di bincangkan bagaimana atau betul dan salahnya. Tapi ia hanya pengalaman dari sunnatullah. Kita berusaha dan orang lain juga berusaha… tak semestinya kita bangga dengan pencapaian kita. Maybe ada formula lain yang lebih baik.
Fasa semasa belajar adalah paling kritikal dalam generasi Y. Di masa itu ia umpama besi yang berada di leburan atau relaunya. Semasa itulah masa untuk dibentuk oleh apa saja ideologi dan trend. Siapa yang cepat dan mampu bekerja keras dengan menggunakan sunnatullah yang paling tepat, nescaya dia berjaya membentuk seramai mungkin bentuk-bentuk manusia yang ada di dalam masyarakat.
Oleh kerana masa itu pendek dan masa pelajarlah saat paling mudah untuk diubah, maka saat itu juga perlu dibentuk ke tahap ke paling maksima. Maksima dari segi swing kepada Islamnya, maksima dari segi semangatnya, maksima dari segi keinginan dan rasa perlu kepada ilmu. Juga maksima untuk berpisah dari jahiliyyah akidah, perasaan dan kelakuan tingkahlaku.
Berjaya atau tidak semasa pembentukan dan pembenturan semasa fasa menjadi pelajar, itulah yang membentuk keinginan hidupnya semasa selepas belajar. Ingin atau tidaknya untuk meneruskan apa yang difahami dan dipegangi semasa zaman belajar ditentukan banyak oleh ia mencapai tahap lulus atau melepasi ‘area’ gelombang. Selepas gelombang akan ada kawasan tenang dan aman. Sesiapa yang tidak dapat melepasi area gelombang itulah maka ia akan terumbang ambing selepas zaman belajar!
Oleh itu…
Usaha maksima perlu dilakukan semasa zaman belajar…. adakah anda sebagai murabbi sanggup bertungkus lumus untuk itu? Atau mad’u anda akan meninggalkan anda dengan senyum selepas zaman belajar mereka dan berkata: “Terima kasih kak kerana membantu saya ber’halaqah’ semasa saya di IPT…. Tapi lepas kerja ni tengoklah dulu samada saya akan bersama atau tidak…!".
Murabbinya terkebil-kebil…. di mana silap aku?
Tapi semua hati manusia adalah di dalam kuasa al-Rahman, di bolak balikkan ke mana yang dikehendakiNya.
Dipetik dari: http://muntalaq.wordpress.com/2010/06/28/bagaimana-boleh-bertahan/
